From
Subject
Time (UTC)
notification+kr4me2asgykn@facebookmail.com
[SIAPA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH] Jaga Kemanusiaan Jaga Kehidupan
2016-08-21 03:09:26
To: SIAPA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH
From: notification+kr4me2asgykn@facebookmail.com (sender info)
Subject:

[SIAPA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH] Jaga Kemanusiaan Jaga Kehidupan


Received: 2016-08-21 03:09:26
  Putra Kalteng , Rizky Guntur , dan 3 lainnya mengirimkan sesuatu di SIAPA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH .       Putra Kalteng 21 Agustus pukul 10:09   Jaga Kemanusiaan Jaga Kehidupan Di sebuah dapur rumah makan di tengah Kota Solo, Jawa Tengah, seorang laki-laki berperawakan kecil sibuk memeriksa aneka bahan mentah segar yang akan diolah menjadi menu harian. Ia melayani satu per satu penyuplai yang berdatangan mengantarkan daging sapi, sayur, dan buah. Dua jam lagi, ia harus membuka rumah makannya, melayani para pengunjung yang ingin santap siang. Laki-laki itu adalah Machmudi Haryono alias Yusuf Adirima, pemiliki Dapoer Bistik, rumah makan dengan menu spesial iga bakar. Ia adalah satu dari sedikit mantan narapidana terorisme yang sukses kembali ke masyarakat dan bertahan hidup sebagai pebisnis kuliner. Namun, upaya untuk hidup normal bukan hal mudah bagi mantan jihadis yang tujuan hidupnya mencari mati syahid. Butuh waktu lama bagi dirinya untuk beradaptasi dengan masyarakat. Jalan hidupnya sebagai jihadis Yusuf pernah bergabung dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan mujahidin Moro Islamic Liberation Front. Ia sempat menjalani pelatihan militer di Kamp Hudaibiyah, Filipina selatan, selama hampir tiga tahun. Yusuf juga memahami strategi gerilya di hutan dan organisasi tempur, serta piawai menggunakan senjata militer seperti AK-47 dan M-16. Sepulang dari Filipina, ia terlibat kasus penyimpanan bom milik jaringan Abu Tholut, mantan terpidana bom Marriot 2002. Yusuf ditangkap bersama tiga orang temannya pada 2003 di sebuah rumah kontrakan di Jalan Taman Sri Rejeki Selatan VII, Semarang, dalam sebuah penyergapan gabungan Detasemen Khusus 88 dan Polda Jawa Tengah. Yusuf diganjar 10 tahun penjara oleh pengadilan karena terbukti menyimpan 26 bom rakitan dan amunisi yang daya ledaknya diperkirakan dua kali dari Bom Bali. Ia menjalani masa tahanan di LP Kedungpane Semarang kurang dari enam tahun dan bebas bersyarat pada 2009. Selama di bui, ia baru menyadari bahwa ideologi yang diyakininya keliru karena memahami ideologi jihad secara membabi buta. Selepas dari penjara, Yusuf ingin hidup normal di masyarakat. Ia menyadari bahwa jalan hidup sebagai jihadis tak bisa diterapkan di Indonesia, karena ujung-ujungnya hanya berakhir dengan bom bunuh diri. Ia tidak lagi menganggap Indonesia sebagai bumi jihad, karena tidak jelas musuhnya. “Kawan-kawan alumni JI sekarang banyak yang tidak lagi mendukung teror sebagai bagian dari jihad. Kami juga tidak setuju ISIS, karena menghalalkan darah orang-orang Islam yang tidak berbaiat atau mendukungnya,” ujar Yusuf. Melepas stigma dengan kembali bekerja Meskipun sudah bertobat, Yusuf belum menemukan jalan kembali ke masyarakat. Stigma mantan-teroris masih melekat kuat pada dirinya. Hal ini membuatnya sulit bergaul di lingkungan sekitar. Ia meyakini bekerja sebagai cara untuk menghilangkan keinginannya kembali menjadi radikal. Ia meninggalkan jaringan kawan-kawan jihadis yang masih aktif dan fokus pada usaha mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Tetapi tak ada yang mau mempekerjakannya. “Napi yang tak punya penghidupan layak akan mudah terbawa kembali ke masa lalunya, jadi kalau saya ingin berubah, saya harus bekerja,” tekadnya. Sampai suatu hari, ia diterima bekerja di sebuah rumah makan bebek goreng di Semarang karena bantuan seorang teman. Sebagai pelayan dan juru masak, Yusuf mulai belajar berinteraksi dengan banyak orang, terutama para pengunjung rumah makan. Setiap hari ia bertemu dengan orang-orang baru, mempelajari selera makanan mereka, dan belajar cara memperlakukan pelanggan dengan baik. Beberapa pelanggannya adalah polisi di Polda Jawa Tengah, yang ia kenal selama di tahanan. Motto yang tertera pada bangku di warung makan Yusuf. “Kami sering berbincang dengan para polisi. Ada yang tanya bagaimana kabarnya, ada yang memuji masakan saya enak, ada yang minta pesanan diantar ke kantor. Malah jadi akrab,” kata Yusuf. Sebelumnya, pergaulan dan komunikasi bapak dua anak ini sangat terbatas, yaitu hanya dengan kalangan para jihadis satu jaringan. Ia pribadi yang tertutup, tidak memercayai orang lain, selalu curiga di depan, dan menganggap orang yang tidak seideologi sebagai musuh. Dalam waktu singkat, Yusuf berubah menjadi pribadi yang terbuka, ekspresif, dan suka bertemu dan berbicara dengan banyak orang dari berbagai kalangan, beragam etnis dan agama. Bahkan, ia mulai ikut menjadi tenaga pemasar dan berani menelpon polisi agar mereka makan siang di rumah makannya dan sering membuahkan hasil. Membuka lembaran hidup baru Ia merasa keberadaannya semakin diterima masyarakat. Orang-orang ternyata tidak mempermasalahkan dirinya mantan teroris, karena mereka lebih peduli pada rasa masakan Yusuf dan juga pelayanannya terhadap para pelanggan. Ini menjadi titik balik yang mengubah hidupnya sekarang. Sikap terbuka dan berkomunikasi dengan banyak orang ternyata membuat dirinya bahagia. Terlebih jika masakan Yusuf disukai orang-orang. Ia menemukan lembaran hidupnya yang baru dengan bekerja rumah makan. Namun, Yusuf tak bertahan lama ikut orang. Ia dipecat oleh bosnya karena sering libur untuk menjalani wajib lapor di Polda Jawa Timur (sesuai domisili penjamin pembebasan bersyarat, yang adalah kakaknya, di Surabaya). Yusuf sudah menguasai keterampilan memasak dan kenal dengan banyak pelanggan, sehingga ia berniat membuka warung makan sendiri. Namun permodalan menjadi kendala karena tidak punya aset untuk dijadikan agunan. Setelah mencari ke sana ke mari, ia mendapat modal dari Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, yang sudah beberapa kali bertemu sejak di dalam tahanan. Huda mendukung rencana Yusuf dan akan mencarikan pinjaman modal di bank. Ia memercayakan pengelolaan rumah makan sepenuhnya pada Yusuf, dengan sistem bagi hasil. Rumah makan itulah yang kini berkembang menjadi Dapoer Bistik. Kini dengan usaha kuliner yang dibangunnya, Yusuf mampu mengembangkan bisnis baru berupa rental mobil di Semarang. Ia mengangsur tiga unit mobil dari hasil mengelola Dapoer Bistik. Yusuf masih berpegang pada jihad sebagai ajaran tertinggi Islam, namun ia kini memaknainya berbeda. Ia menyebut berwirausaha sebagai jihad, karena butuh kesungguhan. Baginya, jihad tidak melulu soal mencari mati syahid, tetapi juga bagaimana mempertahankan kehidupan. Yusuf adalah sedikit orang yang mampu membalik semangat berani mati menjadi semangat menjalani dan mencintai hidup.   Suka Komentari Bagikan    
   
 
   Facebook
 
   
   
 
Putra Kalteng, Rizky Guntur, dan 3 lainnya mengirimkan sesuatu di SIAPA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH.
 
   
Putra Kalteng
21 Agustus pukul 10:09
 
Jaga Kemanusiaan Jaga Kehidupan

Di sebuah dapur rumah makan di tengah Kota Solo, Jawa Tengah, seorang laki-laki berperawakan kecil sibuk memeriksa aneka bahan mentah segar yang akan diolah menjadi menu harian. Ia melayani satu per satu penyuplai yang berdatangan mengantarkan daging sapi, sayur, dan buah. Dua jam lagi, ia harus membuka rumah makannya, melayani para pengunjung yang ingin santap siang.
Laki-laki itu adalah Machmudi Haryono alias Yusuf Adirima, pemiliki Dapoer Bistik, rumah makan dengan menu spesial iga bakar. Ia adalah satu dari sedikit mantan narapidana terorisme yang sukses kembali ke masyarakat dan bertahan hidup sebagai pebisnis kuliner.
Namun, upaya untuk hidup normal bukan hal mudah bagi mantan jihadis yang tujuan hidupnya mencari mati syahid. Butuh waktu lama bagi dirinya untuk beradaptasi dengan masyarakat.
Jalan hidupnya sebagai jihadis
Yusuf pernah bergabung dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan mujahidin Moro Islamic Liberation Front. Ia sempat menjalani pelatihan militer di Kamp Hudaibiyah, Filipina selatan, selama hampir tiga tahun. Yusuf juga memahami strategi gerilya di hutan dan organisasi tempur, serta piawai menggunakan senjata militer seperti AK-47 dan M-16.
Sepulang dari Filipina, ia terlibat kasus penyimpanan bom milik jaringan Abu Tholut, mantan terpidana bom Marriot 2002. Yusuf ditangkap bersama tiga orang temannya pada 2003 di sebuah rumah kontrakan di Jalan Taman Sri Rejeki Selatan VII, Semarang, dalam sebuah penyergapan gabungan Detasemen Khusus 88 dan Polda Jawa Tengah.
Yusuf diganjar 10 tahun penjara oleh pengadilan karena terbukti menyimpan 26 bom rakitan dan amunisi yang daya ledaknya diperkirakan dua kali dari Bom Bali. Ia menjalani masa tahanan di LP Kedungpane Semarang kurang dari enam tahun dan bebas bersyarat pada 2009.
Selama di bui, ia baru menyadari bahwa ideologi yang diyakininya keliru karena memahami ideologi jihad secara membabi buta. Selepas dari penjara, Yusuf ingin hidup normal di masyarakat. Ia menyadari bahwa jalan hidup sebagai jihadis tak bisa diterapkan di Indonesia, karena ujung-ujungnya hanya berakhir dengan bom bunuh diri.
Ia tidak lagi menganggap Indonesia sebagai bumi jihad, karena tidak jelas musuhnya. “Kawan-kawan alumni JI sekarang banyak yang tidak lagi mendukung teror sebagai bagian dari jihad. Kami juga tidak setuju ISIS, karena menghalalkan darah orang-orang Islam yang tidak berbaiat atau mendukungnya,” ujar Yusuf.
Melepas stigma dengan kembali bekerja
Meskipun sudah bertobat, Yusuf belum menemukan jalan kembali ke masyarakat. Stigma mantan-teroris masih melekat kuat pada dirinya. Hal ini membuatnya sulit bergaul di lingkungan sekitar.
Ia meyakini bekerja sebagai cara untuk menghilangkan keinginannya kembali menjadi radikal. Ia meninggalkan jaringan kawan-kawan jihadis yang masih aktif dan fokus pada usaha mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Tetapi tak ada yang mau mempekerjakannya.
“Napi yang tak punya penghidupan layak akan mudah terbawa kembali ke masa lalunya, jadi kalau saya ingin berubah, saya harus bekerja,” tekadnya.
Sampai suatu hari, ia diterima bekerja di sebuah rumah makan bebek goreng di Semarang karena bantuan seorang teman. Sebagai pelayan dan juru masak, Yusuf mulai belajar berinteraksi dengan banyak orang, terutama para pengunjung rumah makan.
Setiap hari ia bertemu dengan orang-orang baru, mempelajari selera makanan mereka, dan belajar cara memperlakukan pelanggan dengan baik. Beberapa pelanggannya adalah polisi di Polda Jawa Tengah, yang ia kenal selama di tahanan.
Motto yang tertera pada bangku di warung makan Yusuf.
“Kami sering berbincang dengan para polisi. Ada yang tanya bagaimana kabarnya, ada yang memuji masakan saya enak, ada yang minta pesanan diantar ke kantor. Malah jadi akrab,” kata Yusuf.
Sebelumnya, pergaulan dan komunikasi bapak dua anak ini sangat terbatas, yaitu hanya dengan kalangan para jihadis satu jaringan. Ia pribadi yang tertutup, tidak memercayai orang lain, selalu curiga di depan, dan menganggap orang yang tidak seideologi sebagai musuh.
Dalam waktu singkat, Yusuf berubah menjadi pribadi yang terbuka, ekspresif, dan suka bertemu dan berbicara dengan banyak orang dari berbagai kalangan, beragam etnis dan agama. Bahkan, ia mulai ikut menjadi tenaga pemasar dan berani menelpon polisi agar mereka makan siang di rumah makannya dan sering membuahkan hasil.
Membuka lembaran hidup baru
Ia merasa keberadaannya semakin diterima masyarakat. Orang-orang ternyata tidak mempermasalahkan dirinya mantan teroris, karena mereka lebih peduli pada rasa masakan Yusuf dan juga pelayanannya terhadap para pelanggan.
Ini menjadi titik balik yang mengubah hidupnya sekarang. Sikap terbuka dan berkomunikasi dengan banyak orang ternyata membuat dirinya bahagia. Terlebih jika masakan Yusuf disukai orang-orang. Ia menemukan lembaran hidupnya yang baru dengan bekerja rumah makan.
Namun, Yusuf tak bertahan lama ikut orang. Ia dipecat oleh bosnya karena sering libur untuk menjalani wajib lapor di Polda Jawa Timur (sesuai domisili penjamin pembebasan bersyarat, yang adalah kakaknya, di Surabaya).
Yusuf sudah menguasai keterampilan memasak dan kenal dengan banyak pelanggan, sehingga ia berniat membuka warung makan sendiri.
Namun permodalan menjadi kendala karena tidak punya aset untuk dijadikan agunan. Setelah mencari ke sana ke mari, ia mendapat modal dari Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, yang sudah beberapa kali bertemu sejak di dalam tahanan.
Huda mendukung rencana Yusuf dan akan mencarikan pinjaman modal di bank. Ia memercayakan pengelolaan rumah makan sepenuhnya pada Yusuf, dengan sistem bagi hasil. Rumah makan itulah yang kini berkembang menjadi Dapoer Bistik.
Kini dengan usaha kuliner yang dibangunnya, Yusuf mampu mengembangkan bisnis baru berupa rental mobil di Semarang. Ia mengangsur tiga unit mobil dari hasil mengelola Dapoer Bistik.
Yusuf masih berpegang pada jihad sebagai ajaran tertinggi Islam, namun ia kini memaknainya berbeda. Ia menyebut berwirausaha sebagai jihad, karena butuh kesungguhan. Baginya, jihad tidak melulu soal mencari mati syahid, tetapi juga bagaimana mempertahankan kehidupan.
Yusuf adalah sedikit orang yang mampu membalik semangat berani mati menjadi semangat menjalani dan mencintai hidup.
 
Suka
Komentari
Bagikan
 
 
   
   
 
Lihat di Facebook
   
Sunting Pengaturan Email
 
   
   
Balas email ini untuk mengomentari kiriman ini.
 
   
   
 
Pesan ini dikirim ke deleted@email-fake.pp.ua. Jika Anda tidak ingin menerima email ini lagi dari Facebook, berhenti berlangganan.
Facebook, Inc., Attention: Community Support, Menlo Park, CA 94025