From
Subject
Time (UTC)
notification+kjdmj7w-iu7i@facebookmail.com
[BUTON TENGAH (GULAMASTA)] KEMEROSOTAN NILAI KEMANUSIAAN DALAM MOMENTUM PILKADA
2016-09-23 09:27:35
To: BUTON TENGAH (GULAMASTA)
From: notification+kjdmj7w-iu7i@facebookmail.com (sender info)
Subject:

[BUTON TENGAH (GULAMASTA)] KEMEROSOTAN NILAI KEMANUSIAAN DALAM MOMENTUM PILKADA


Received: 2016-09-23 09:27:35
  Andy , Ucup , dan 16 lainnya mengirimkan sesuatu di BUTON TENGAH (GULAMASTA) .       Andy 23 September pukul 16:27   KEMEROSOTAN NILAI KEMANUSIAAN DALAM MOMENTUM PILKADA Secara umum pilkada dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan kepala daerah yang dilakukan secara langsung oleh penduduk daerah administratif setempat guna menentukan otonomi daerah yang lebih baik dan dalam perjalanan sedikit memilukan dareah yang dikenal dengan sebutan Negeri seribu goa BUTENG) kini berada tepat pada perpecahan. perpecahan itu kini nampak jelas setalah bau pesta demokrasi menyengat di tengah-ditengah masyarakat ramai. secara eksplisit kita bisa melihat tingkat partsipasi masyarakat dalam konteks pemilihan kepala daerah berbarengan dengan muatan kepentingan pribadi hingga mengabaikan sesuatu yang vital dalam tubuh daerah yang baru seumur jagung, jelasnya bukan berdasarkan kesadaran untuk membangun daerah kearah yang lebih baik. ada beerapa pendekatan yang bisa kita pakai untuk menyikapi hal itu. sederhananya orientasi politik dari masyarakat Buton Tengah pada momentum Pemilihan Umum Kepala Daerah (PILKADA) yang didasarkan pada pendekatan behavioral approach. dengan pendekatan ini dipotretkan melalui peranan beberapa variabel yang ada pada masyarakat dalam menentukan sikap politik/orientasi gambaran politiknya yang disandarkan pada etnisitas, finansial, religi, idiologi dan lain sebagainya. Orientasi politik yang disandarkan pada beberapa pendekatan variabel tersebut ditelaah dan dipersepsikan kembali dengan melihat literatur serta pengamatan yang bersandar pada jejaringan media yang telah ada terkait dengan orientasi politik masyarakat buton tengah serta realitas politik dalam potret melalui bentang sejarah yang mencerminkan kemerosotan prilaku masyarakat dalam kaitannya pada orientasi sikap politiknya dapat diperskriptifkan dengan pemetaan politik dibawah ini. orientasi politik masyarakat cendrung menggunakan pendekatan etnisitas sebagai pendekatan awal dalam melihat fenomenologi politik terkait dengan figur politik mana yang akan dipilih, pendekatan kedua ialah pendekatan finansial yang diartikan oleh sebagian masyarakat, bahwa masyarakat merasa perlu memperoleh kompensasi pada awal masa pemilihan dan tidak akan mempermasalahkan apakah misi seorang kontestan politik akan terealisasi setelah pemilu, persepsi ini muncul ditengah masyarakat dikarenakan budaya politik para kontestan terdahulu kerap melupakan janji-janji di masa kampanyenya efeknya masyarakat memanfaatkan momen pilkada untuk mengambil keuntungan “sesaat” dan “cepat” yakni menyukai model pendekatan “money politic”. selanjutnya orientasi finansial kerap muncul didaerah-daerah yang memiliki tingkat ekonomi bawah yakni daerah daerah yang masih dalam proses pengembangan pada kecamatan/desa “lambat” dalam proses kemajuan dikarenakan faktor-faktor negatif seperti budaya birokrasi yang koruptif, nepotisme dan kolusi. Kondisi ini kemudian melahirkan pradigma masyarakat berubah kearah pradigma pesimistik-realistik. Masyarakat tidak mementingkan apakah figur tersebut mempunyai kapabel dan integritas yang tinggi untuk menjadi pimpinan (leader) dalam membangun daerah, melainkan lebih memilih figur yang dermawan berasal dari etnis yang sama dengan dirinya, pradigma ini muncul dengan alasan masyarakat membutuhkan “keuntungan” yang dapat dirasakan secara cepat. Misalkan lebih tertarik dengan isu pembagian bahan pokok dan pemberian sejumlah uang ketimbang isu perubahan dan pembangunan daerah ataupun isu akan direkrutmen menjadi pegawai birokrasi dan ini kerap terjadi pada daerah kita.   Suka Komentari Bagikan    
   
 
   Facebook
 
   
   
 
Andy, Ucup, dan 16 lainnya mengirimkan sesuatu di BUTON TENGAH (GULAMASTA).
 
   
Andy
23 September pukul 16:27
 
KEMEROSOTAN NILAI KEMANUSIAAN DALAM MOMENTUM PILKADA

Secara umum pilkada dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan kepala daerah yang dilakukan secara langsung oleh penduduk daerah administratif setempat guna menentukan otonomi daerah yang lebih baik dan dalam perjalanan sedikit memilukan dareah yang dikenal dengan sebutan Negeri seribu goa BUTENG) kini berada tepat pada perpecahan. perpecahan itu kini nampak jelas setalah bau pesta demokrasi menyengat di tengah-ditengah masyarakat ramai. secara eksplisit kita bisa melihat tingkat partsipasi masyarakat dalam konteks pemilihan kepala daerah berbarengan dengan muatan kepentingan pribadi hingga mengabaikan sesuatu yang vital dalam tubuh daerah yang baru seumur jagung, jelasnya bukan berdasarkan kesadaran untuk membangun daerah kearah yang lebih baik. ada beerapa pendekatan yang bisa kita pakai untuk menyikapi hal itu. sederhananya orientasi politik dari masyarakat Buton Tengah pada momentum Pemilihan Umum Kepala Daerah (PILKADA) yang didasarkan pada pendekatan behavioral approach. dengan pendekatan ini dipotretkan melalui peranan beberapa variabel yang ada pada masyarakat dalam menentukan sikap politik/orientasi gambaran politiknya yang disandarkan pada etnisitas, finansial, religi, idiologi dan lain sebagainya. Orientasi politik yang disandarkan pada beberapa pendekatan variabel tersebut ditelaah dan dipersepsikan kembali dengan melihat literatur serta pengamatan yang bersandar pada jejaringan media yang telah ada terkait dengan orientasi politik masyarakat buton tengah serta realitas politik dalam potret melalui bentang sejarah yang mencerminkan kemerosotan prilaku masyarakat dalam kaitannya pada orientasi sikap politiknya dapat diperskriptifkan dengan pemetaan politik dibawah ini.
orientasi politik masyarakat cendrung menggunakan pendekatan etnisitas sebagai pendekatan awal dalam melihat fenomenologi politik terkait dengan figur politik mana yang akan dipilih, pendekatan kedua ialah pendekatan finansial yang diartikan oleh sebagian masyarakat, bahwa masyarakat merasa perlu memperoleh kompensasi pada awal masa pemilihan dan tidak akan mempermasalahkan apakah misi seorang kontestan politik akan terealisasi setelah pemilu, persepsi ini muncul ditengah masyarakat dikarenakan budaya politik para kontestan terdahulu kerap melupakan janji-janji di masa kampanyenya efeknya masyarakat memanfaatkan momen pilkada untuk mengambil keuntungan “sesaat” dan “cepat” yakni menyukai model pendekatan “money politic”.
selanjutnya orientasi finansial kerap muncul didaerah-daerah yang memiliki tingkat ekonomi bawah yakni daerah daerah yang masih dalam proses pengembangan pada kecamatan/desa “lambat” dalam proses kemajuan dikarenakan faktor-faktor negatif seperti budaya birokrasi yang koruptif, nepotisme dan kolusi. Kondisi ini kemudian melahirkan pradigma masyarakat berubah kearah pradigma pesimistik-realistik. Masyarakat tidak mementingkan apakah figur tersebut mempunyai kapabel dan integritas yang tinggi untuk menjadi pimpinan (leader) dalam membangun daerah, melainkan lebih memilih figur yang dermawan berasal dari etnis yang sama dengan dirinya, pradigma ini muncul dengan alasan masyarakat membutuhkan “keuntungan” yang dapat dirasakan secara cepat. Misalkan lebih tertarik dengan isu pembagian bahan pokok dan pemberian sejumlah uang ketimbang isu perubahan dan pembangunan daerah ataupun isu akan direkrutmen menjadi pegawai birokrasi dan ini kerap terjadi pada daerah kita.
 
Suka
Komentari
Bagikan
 
 
   
   
 
Lihat di Facebook
   
Sunting Pengaturan Email
 
   
   
Balas email ini untuk mengomentari kiriman ini.
 
   
   
 
Pesan ini dikirim ke deleted@email-fake.pp.ua. Jika Anda tidak ingin menerima email ini lagi dari Facebook, berhenti berlangganan.
Facebook, Inc., Attention: Community Support, Menlo Park, CA 94025